Anda Berada Di : Home arrow Kabar ED arrow Berita & Article ED arrow Article ED arrow Ketika Ketentuan Hidup Sudah Pudar
Ketika Ketentuan Hidup Sudah Pudar
 

By KURNIA HADI, SH, SIK, MH, on 13-08-2008 10:45

Views : 456    

Favoured : 72


Alam dan segala isinya sudah diciptakan oleh Allah Yang Maha Kuasa dalam kondisi yang sempurna, seperti apa yang diutarakan bahwa “Tidak Aku ciptakan mahluk di dunia dalam keadaan berpasang-pasangan”…. Dengan kondisi penciptaan yang sempurna tersebut maka kita hendaknya harus memiliki keyakinan bahwa kita diciptakan dalam, kondisi berpasang-pasangan. Ada hitam berarti ada putih, ada baik berarti ada yang buruk, ada kesengsaraan berarti ada pula kebahagiaan, dan banyak lagi. Itulah yang dimaksud dengan “Misteri Illahi”, dalam menyikapi hal terse4but manusia awam tidak semuanya mengerti apa yang menjadi “misteri Illahi” tersebut. Kecuali memang diijinkan oleh Allah swt, tetapi kita jangan patah semangat. Karena bagaimana pun kita adalah mahluk Tuhan yang paling sempurna dari sekian banyak ciptaannya, seperti apa yang diutarakan dalam Firman Allah swt bahwa “Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia hanya untuk beribadah dan berbakti pada Ku”. Ini adalah salah satu bukti bahwa kita adalah mahluk yang sempurna, kesempurnaan kita ditandai dengan adanya “akal dan pikiran”. Akal dan pikiran inilah yang nantinya menjadi suatu sarana yang diberikan oleh Allah sebagai pembeda dari hal yang berpasang-pasangan tersebut. Dengan adanyanya akal kita dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang putih dan hitam, mana yang nikmat dan yang sengsara, dan banyak lagi fungsi dari akal tersebut yang jika kita berusaha menghitungnya maka kita tidak akan dapat mengkalkulasikannya. Andaikan seluruh air di muka bumi ini sebagai tinta kalian menulis, maka tidak akan sanggup kalian menulis semua nikmat Ku……Konsekuensi dari semua yang kita terima adalah kita siap menghadapi segala aturan main yang ada di dunia ini, kita pun harus siap menerima segala konsekuensinya. Dengan demikian kita pun harus siap menerima apa yang menjadi “Hukum Kehidupan”. Hokum tersebut di antaranya adalah:

1.       Perjuangan (Struggle)

2.       Syarat akan ujian (Examination)

3.       Keyakinan (Surety)

4.       Ketidakpastian (Undefenitely)

5.       Tawaqqal (Patience)

Setiap pengertian kata di atas mempunyai masing-masing bagi yang memahaminya, ini hendaknya tidak kita jadikan masalah karena seperti sudah disampaikan oleh Allah swt bahwa “Tidak Aku ciptakan kalian baerbangsa-bangsa, dan bersuku-suku serta perbedaan agar kalian semua bertaqwa”. Artinya adalah bahwa perbedaan tersebut adalah nikmat, dan nikmat itu adalah sesuatu yang indah. Jika perbedaan terjadi hendaknya kita harus yakin akan keyakinan kita sendiri dan berpedoman pada yang sudah ditentukan (bagi kaum muslim diwajibkan berpedoman kepada Al Qur’an dan Al Hadist).  

1.       Perjuangan (Struggle)

Perjuangan adalah mutlak untuk dilakukan pada setiap mahluk hidup, apalagi manusia. Kita hidup parti dipenuhi dengan masalah akan kehidupan itu sendiri, setiap manusia pasti mempunyai masalah. Untuk mengatasi masalah tersebut maka kita harus berjuang atau berikhtiar semaksimal mungkin, jika hendaknya jangan mudah menyerah. Menyerah hanyalah kata bagi seorang pecundang, perjuangan penting agar apa yang menjadi cita-cita dan tujuan hidup kita tercapai. Jika perjuangan telah dilalui, apa pun hasilnya nanti pasti kita akan menerima dengan lapang dada. Barang siapa yang giat dalam berjuang, maka ia sebenar-benarnya mahluk Tuhan. Dengan berjuang berarti kita benar-benar menikmati hidup sebagai mahluk yang berada di muka bumi ini. Banyak hal yang dilakukan dalam perjuangan, diantaranya adalah perjuangan untuk hidup, perjuangan untuk mempertahankan keyakinan, perjuangan untuk membela yang benar. Perjuangan untuk mencari inovasi baru, perjuangan untuk mengatasi permasalahan yang dialami, dan banyak jenis dan contoh perjuangan itu sendiri.

Dalam berjuang sudah barang tentu kita mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dalri tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan hingga pada tahapan mengevaluasi apa yang telah kita perjuangkan. Proses perjuangan yang demikian adalah proses perjuangan yang berani dan siap untuk berjuang dengan sebenar-benarnya, perjuangan bukan berarti kita berjuang tanpa mempersiapkan segala sesuatu hal. Jika demikian maka berarti perjuangan kita akan menjadi suatu perjuangan yang membabi buta, jikia pun itu berhasil maka itu adalah sebuah keberuntungan semata. Perjuangan yang membabi buta bukan merupakan sebuah perjuangan anak manusia yang dikaruniakan akal dan pikiran, melainkan perjuangan seorang anak kecil yang hanya mengkedepankan emosi dan naluri semata. Jika kita benar-benar seorang yang dewasa dalam berpikir dan bertindak maka hendaknya kita benar-benar melakukan perjuangan layaknya seorang yang dewasa dalam berpikir dan bertindak yang tentunya didasari oleh iman dan ketaqwaan.

Perjuangan pengertian pun berbeda dari tiap-tiap individu, pengertian tersebut bisa berbentuk suatu pengertian posistf maupun dapat juga memiliki pengertian negative. Ini juga sudah merupakan hokum alam yang harus kita pikirkan masing-masing, tetapi kesemuanya tersebut tergantung diri kita pribadi dalam mencermatinya. Seorang manusia yang berjuang berarti dia telah menempatkan dirinya sebafgai mahluk Allah swt, karena memang manusia sudah menjadi kodrat untuk selalu berjuang (berikhtiar) dan Sang Penguasa Alam lah yang menentukan. Dengan melakukan perjuangan apa yang kita cita-citakan berarti orang tersebut yakin akan keadaan diri dan kemampuannya juga sadar akan aspek-aspek yang berada di sekelillingnya.

Kadar seseorang dalam melakukan perjuangannya pun berbeda-beda, ada yang berjuang sampai dia tidak mampu lagi untuk melakukan apa-apa dan ada juga yang baru sedikit melakukan perjuangan sudah berputus asa dan cenderung pasrah dari apa yang telah dilakukannya. Hal tersebut tergantung dari kemampuan, ilmu pengetahuan yang dimiliki serta keteguhan moril yang dimiliki oleh orang tersebut. Begitu pula dalam menerima hasil dari perjuangan, ada yang mencermati dengan suatu kekecewaan yang mendalam dan ada juga yang biasa-biasa saja. Sebagai umat muslim yang memiliki iman kepada Allah swt, yakinlah bahwa Allah swt sudah mempunyai maksud dari apa yang semua kita telah kerjakan. Allah selalu tepat waktu, tergantung diri kita sendiri sudah siap untuk menerimanya atau belum…

2.       Ujian (Examination)

Kelanjutan dari sebuah perjuangan adalah ujian, inilah yang menempatkan seseorang menjadi suatu mahluk yang unggul dari manusia lain atau sebaliknya. Ujian hendaknya dijadikan sebagai bahan evaluasi dan acuan untuk bertindak selanjutnya bukan malah dijadikan suatu beban hidup yang berkepanjangan. Jika kita mampu menghadapi dan menyelesaikan ujian maka kita akan mampu menilai diri kita pribadi, sejauh mana tingkat kedewasaan yang kita miliki. Dalam menilai setiap ujian yang kita hadapi, hendaknya kita mencermati dengan segenap komponen yang ada dalam diri kita pribadi. Kita hendaknya mempunyai suatu patokan atau pun standar baku, dengan patokan dan standar baku tersebut maka kita pun mempunyai suatu keahlian dan ilmu dalam menanggapi ujian tersebut. Hal tersebut semacam bentuk suatu formula atau rumusan yang komposisinya diri kita sendiri yang mengerti, karena bagaimanapun kepiawaian seseorang menghadapi suatu permasalahan atau ujian tidak mungkin formulanya sama dengan orang lain.

Setiap hasil ujian yang kita hadapi akan membuahkan hasil sesuai dengan apa yang kita upayakan dalam mengatasinya, seperti apa yang telah disampaikan sebelumnya bahwa kesemuanya tergantung dari diri pribadi kita masing-masing. Orang yang ikhlas dalam mengadapi ujian adalah sosok orang yang memiliki ahlak dan budi pekerti yang tinggi, ini sudah dapat dipastikan dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan bermasyarakat. Orang yang dalam menghadapi suatu permasalahan selalu mengandalkan emosi dan naluri semata tanpa disertai kematangan iman dan kedewasaan berpikir sama halnya seorang anak atau orang yang tidak memiliki kemampuan apa-apa. Tetapi dalam realita saat ini, orang yang tinggi status social dan ilmu pengetahuannya pun belum tentu mampu menghadapi ujian yang dialaminya secara proporsional. Kemampuan seseorang menghadapi ujian adalah tergantung dari iman orang itu sendiri, jika dia tenang dan stabil emosinya maka sedikit banyak ia akan mampu mencerna setiap ujian yang ada dan formula apa yang tepat dalam menghadapinya.

Ujian merupakan suatu berkah dan nikmat dari Allah swt, Allah memberikan sebuah ujian kepada individu atau manusia yang hidup hanya semata menunjukkan bahwa Dia-lah Maha Penguasa atas segalanya. Selain itu, ujian merupakan sebuah tolok ukur pribadi bagi individu itu sendiri. Allah memberikan sebuah ujian kepada mahluknya karena Allah swt yakin bahwa hamba-Nya tersebut mampu menghadapinya. Seperti Firman Allah bahwa “Tidak akan Aku uji suatu kaum jika kaum tersebut tidak mampu menghadapinyanya…”. Ini salah satu wujud dari kepastian janji yang diberikan Allah kepada hambanya, suatu kepastian yang tidak dapat diragukan lagi karena suatu hal yang pasti adalah yang datangnya dari Allah. Untk itu, dalam menyikapi suatu permasalahan atau ujian maka hendaknya kita menerima dengan lapang dada. Jangan tanamkan kepada diri kita masing-masing yang selalu menuntut hak tetapi kita mengesampingkan apa yang menjadi kewajiban kita masing-masing.

Memang kadar iman dan emosional pribadi berbeda-beda, saya sendiri pun dalam menghadapi ujian pasti belum tentu benar mengatasinya. Tetapi hendaknya kita sebagai hamba Allah yang selalu merasa kecil dan penuh akan kekeurangan pasrah dan memohon perlindungan dan petunjuk kepada-Nya bagaimana solusi dan formula yang tepat untuk mengatasi ujian tersebut. Bisa dibayangkan jika kita hidup tanpa adanya ujian yang menggugah adrenalin kita, terus terang dalam kondisi seperti itu berarti kita memiliki kehidupan yang sama sekali tidak berwarna dan bermakna.  Sekali lagi mari kita jadikan ujian dalam kehidupan kita sebagai suatu hal yang memang kita harapkan, sehingga apa yang nantinya kita akan hadapi dalam penyelesaiannya menjadikan tolok ukur pribadi-pribadi yang memang ditakdisrka sebagai seorang khalifah di muka bumi ini.

 

3.       Keyakinan (Surety)

Keyakianan adalah merupakan pendirian hati yang dipengaruhi oleh kondisi pribadi dan lingkungan yang ada. Keyakinan timbul karena suatu kepercayaan, dan kepercayaan tersebut dipengaruhi oleh seluruh elemen yang ada dalam pribadi setiap orang. Keyakinan bisa saja dipengaruhi dan bahkan sulit dipengaruhi. Hal itu tergantung dari kepribadian individu itu sendiri di dalam menyikapi intervensi yang diterimanya. Dalam menghadapi suatu perjuangan hidup sudah dipastikan kita akan menghadapi suatu ujian, dalam menghadapi ujian itulah maka kita sangat memerlukan suatu keyakinan. Jika kita yakin bahwa kita akan mampu menghadapi dan melalui dengan mudah maka kita akan mudah pula menghadapi ujian tersebut.

Bagi saya pribadi mempunyai suatu keyakinan bahwa keyakinan adalah sebuah doa, dari doa ini yang menumbuhkan suatu bentuk motivasi bagi diri pribadi yang nantinya berguna dalam kita menghadapi ujian yang ada. Seorang pesimistis selalu berkeyakinan bahwa dirinya tidak akan mampu untuk menghadapi segala tantangan dan ujian yang ada, dia selalu berpedoman dan bergantung kepada apa yang menjadi keyakinan dari orang lain. Sebaliknya, jika orang tersebut adalah seorang yang optimistis, maka ia yakin dengan segala kemampuan dan kondisinya akan mampu mengahdapi tantangan, aral dan ujian yang ada. Dalam menyikapi suatu keyakinan hendaknya kita tidak terlalu mengkerdilkan maknanya, yaitu hanya diidentikan dengan keyakinan beragama atau iman. Keyakinan mempunyai makna luas yang kesemuanya tergantung diri kita pribadi untuk menyikapinya.

Seseorang yang mempunyai suatu keyakinan yang kuat akan sulit dipengaruhi oleh orang lain dan factor-faktor ekstern yang ada. Selain sebagai suatu motivasi dan doa, keyakinan adalah merupakan suatu wujud jatidiri dari seseorang. Jatidiri inilah yang mempunyai penilaian bahwa seseorang berbeda dengan yang lain, sehingga di mata orang lain orang tersebt mempunyai nilai. Nah, nilai inilah yang berguna bagi kelangsungan hidup dan bermasyarakat. Nilai inilah yang nantinya menjadi suatu “label” pribadi kita masing-masing. Kita lahir, besar, hidup dan berkarya sudah menjadi suatu kodrat sebagai seorang khalifah di muka bumi ini oleh Allah. Untuk itu, jika keyakinan kita tidak diberdayakan secara maksimal maka kita tidak melaksanakan apa yang diamanatkan oleh Sang Maha Pencipta. Dengan kodrat seseorang menjadi suatu khalifah maka hendaknya dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari hendaknya kita benar-benar berperilaku sebagai seorang khalifah yang mandiri. Keyakinan juga identik dengan suatu kemandirian, kemandirian inilah yang menjadikan kita “majikan bagi diri kita pribadi”.

Kecenderungan orang hidup jaman sekarang bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki keyakinan tinggi, sedangkan yang lainnya hanya sebagai pengikut dari pemilik keyakinan tinggi tersebut. Hal tersebut pada dasarnya bertolak belakang terhadap apa yang menjadi kodrat dari manusia, yaitu menjadi khalifah di atas muka bumi ini. Walaupun posisi dan pekerjaan kita sebagai seorang bawahan, maka hendaknya kita mempunyai hati nurani dan akal yang dapat dijadikan pedoman dalam kita berkeyakinan akan suatu hal. Tidak semua perintah pimpinan atau atasan adalah benar, relaita yang ada bahwa apa yang menjadi kebijakan pimpinan cenderung mengkedepankan keyakinannya yang salah. Dengan kondisi yang demikian, apakah kita pun terhanyut dengan kekeliruan tersebut? Inilah yang diperlukan dari suatu keyakinan, untuk itu mari kita perbaiki diri kita masing-masing dan berusaha menjadi khalifah bagi diri kita pribadi.

 

4.       Ketidakpastian (Undefenitely)

Semua apa yang telah dihasilkan dari tangan manusia adalah suatu ketidakpastian, baik itu yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Apa bentuk hasil yang berwujud? Banyak contoh, seperti halnya perundang-undangan, produk suatu barang dan banyak lagi. Nilai ketidakpastiannya adalah sejauh mana pemberdayaan dan pemanfaatannya. Sedangkan hal yang tidak berwujud contohnya adalah ucapan dan perkataan, jasa dan banyak lagi. Di alam ini yang merupakan suatu kepastian adalah sesuatu yang berasal dari Allah swt. Alllah swt menciptakan suatu hal secara berpasang-pasangan, dengan ciptaan-Nya tersebut maka ada keselarasan dibaliknya. Ketidakpastian sudah merupakan suatu kodrat dari manusia, ilmu matematika yang terkenal dengan ilmu pasti pun menurut saya bukan merupakan suatu kepastian. Hal itu didasarkan oleh orang-oran yang memiliki nilai kepercayaan yang sama, tetapi jika orang yang tidak percaya bahwa ilmu matematika tersebut bukan suatu kepastian maka hal tersebut bukan merupakan ilmu pasti.

Berbagai macam ketidapastian yang kita alami dari hidup ini, seperti contoh yang sering terjadi di Negara kita yang tercinta ini yaitu masalah ketidakpastian hokum. Walaupun ada berbagai hierarki system peradilan pidana dengan prosesnya yang telah tercantum dalam undang-undang maka hasil yang dikeluarkan pun bukan merupakan suatu kepastian. System birokrasi Negara yang sudah tertata baik pun pasti memiliki ketidakpastian. Walaupun kita sering mendapatkan suatu kejadian yang pasti tetapi itu tentunya tidak berdiri sendiri, masih ada Allah yang memberika ijin tentang kepastian tersebut. Sebagai manusia kita hendaknya jangan terlalu sombong akan keberhasilan dan kepastian yang kita miliki. Suatu kepastian menurut saya adalah suatu hubungan yang mempunyai ikatan erat dengan keadilan. Wujud dan bagaimana penilaian dan tolok ukur keadilan adalah pribadi masing-masing yang menilai.

Dengan perjuangan yang telah kita lakukan dalam menghadapi suatu ujian, maka kita sendiri pun memiliki suatu keyakinan akan hasil dari apa yang telah kita lakukan dari menghadapi ujian tersebut, tetapi hal tersebut hendaknya jangan menjadikan kita mempunyai rasa keyakinan yang tinggi karena apa yang dihasilkan belum tetnu sesuai dengan harapan kita. Itulah ketidakpastian yang akan kita alami, kondisi yang demikian hendaknya tidak kita jadikan sebagai momok semata tetapi hendaknya kita jadikan sebagai ajang pendekatan diri kepada Sang Khaliq. Asal muasal konflik terjadi karena apa yang kita cita-citakan dan usahakan tidak sesuai dengan hasil yang didapatkan. Dan orang yang merasa dirinya kaya adalah orang yang merasa apa yang diterimakan dari apa yang diusahakannya cukup. Dengan merasa dirinya citulah ia akan merasakan suatu kepastian, bukan memaksa terus dirinya untuk mencapai apa yang diinginkannya hingga akhirnya ia melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Jika dilihat makna yang lebih mendalam dari arti ketidakpastian adalah bahwa kita dilatih oleh Sang Khaliq untuk selalu berusaha dan berusaha. Manusia bisanya hanya berikhtiar tetapi Dia lah yang menentukan. Setiap usaha yang kita lakukan tidak akan sia-sia, pasti nantinya akan membuahkan hasil dari apa yang telah kita kerjakan. Jika kita mengerjakan suatu hal yang negative maka hasilnya pun akan negative, dan sebaliknya. Itulah salah satu contoh dari kepastian yang diberikan oleh Allah swt, siapa berbuat apa akan mendapatkan apa. Dalam tulisan ini saya mengajak setiap pembaca untuk bersiap diri menerima ketidakpastian, dengan kita siap menerima suatu ketidakpastian, maka kita telah mempersiapkan diri kita pada situasi yang akan terjadi dan berkembang. Jadikan ketidakpastian sebagai bagian dari rahmat Tuhan, dengan begitu kita akan menikmati hidup secara mendalam dan utuh.

 

5.       Tawaqqal (Patience)

Seperti telah diuraikan di atas tentang ketidakpastian, maka pembahasan selanjutnya adalah tentang tawaqqal. Tawaqqal memiliki arti adalah kesabaran, kesabaran adalah suatu sifat yang dimiliki oleh para Nabi, Rasul dan orang-orang pilihan lainnya. Kesabaran juga menunjukkan tingkat kedewasaan dan berpikir dari seorang. Dalam kondisi kehidupan jaman sekarang, kesabaran sungguh sangat diperlukan. Di saat kondisi yang serba penuh dengan ketidakpastian maka kita tetap harus mempedomani diri kita dengan kesabaran atau tawaqqal tersebut. Dengan rasa tawaqqal yang tinggi maka akan membuat hidup kita ini lebih mudah dan berwarna. Hidup yang lebih baik dan berwarna adalah tujuan hidup bagi kebanyakan orang. Dengan sabar kita akan lebih memaknai setiap hal kejadian yang kita alami dan terjadi di muka bumi ini.

Last update : 13-08-2008 10:45

   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 
Comment language: English (0), Bahasa Indonesia (0)

Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Sebelumnya   Berikutnya >



Article ED Berita ED