Para teknisi Lapan membuat stasiun bumi Biak ini dengan cara mengintegrasikan komponen yang dibeli sesuai dengan rancangan stasiun bumi. Selain mengintegrasikan komponen, para teknisi Lapan juga membuat perangkat lunak (software) untuk mengoperasikan stasiun bumi tersebut.
Stasiun bumi Lapan di Biak memiliki antena untuk menangkap sinyal satelit. Antena tersebut spesial karena digunakan untuk menangkap sinyal dari satelit berorbit rendah. Untuk menangkap sinyal satelit semacam ini, antena harus dapat bergerak atau berubah orientasi secara cepat karena satelit muncul dan hilang dari horizon kurang dari 15 menit.
Elly mengatakan, stasiun Biak sekarang bisa digunakan untuk menerima data satelit LAPAN-TUBSAT. LAPAN-TUBSAT adalah satelit mikro buatan ilmuwan Indonesia dengan berat di bawah 100 kilogram. Satelit ini diluncurkan ke orbit polar dengan ketinggian 635 km di atas permukaan Bumi pada Januari 2007.
“Dengan begitu, ketika Lapan telah berhasil mengoperasikan stasiun bumi satelit LAPAN-TUBSAT di Biak. Satelit LAPAN-TUBSAT kini dapat menjangkau wilayah Indonesia timur, bahkan hingga Australia,” katanya.
LAPAN-TUBSAT membawa muatan dua kamera yang menghasilkan gambar dengan resolusi 5 m dan lebar 3,5 km, serta gambar dengan resolusi 200 km dan lebar 81 km.
Hingga tiga tahun beroperasi, LAPAN-TUBSAT masih berfungsi dengan baik. Satelit ini telah berhasil mengambil berbagai citra di wilayah Indonesia bagian barat. Cakupan satelit tersebut meliputi Singapura hingga Bali. Pada tahun lalu, LAPAN-TUBSAT digunakan untuk memantau pembangunan jembatan Suramadu dan proyek jalan tol di utara Pulau Jawa.
E-mail ini dilindungi dari spam bots, kamu perlu mengaktifkan JavaScript utk melihatnya