Anda Berada Di : Home arrow Kabar ED arrow Berita & Article ED arrow Article ED arrow Tokyo, 3 Oktober 2009
Tokyo, 3 Oktober 2009
 

By KURNIA HADI, SH, SIK, MH, Mpp, on 03-09-2010 01:19

Views : 359    

Favoured : 51

There are no translations available

Jepang, Tokyo, 03 Oktober 2009

Satu hari sudah terlewati, kondisitidur saya menutup hari sebelumnya adalah menggunakan baju warna putih denganmotif baju bertuliskan SWAT. Salah satu grup elite pasukan kepolisian di NegaraAmerika Serikat. Tidur dengan rasa lelap tanpa memikirkan satu permasalahanatau beban apapun, berselimut tebal yang terbuat entah dari apa. Yangterpenting adalah selimut yang saya dapat ada tiga jenis, dua diantaranya hanyasaya lipat di ujung tempat tidur posisi di bawah kaki. Sedangkan yang palingtebal saya pakai sebagai selimut tidur.

 

A.     Bangun tidur jam 10.23 waktu Tokyo:

Bangun dari tidur,hal yang saya rasakan adalah jari tengah tangan kanan saya kaku. Ditemanidengan mimipi sebagai "buah tidur" yang saya sendiri tidak mengerti makna darimimpi tersebut, mencoba mengingat tentang apa yang telah saya perbuat ataukejadian apa yang menyebabkan tangan kanan jari tengah saya sakit dan kakuhingga tulisan ini dibuat pun jari tengah tangan kanan saya masih kaku.

Terdiam sesaatuntuk memastikan semua kondisi dalam keadaan baik-baik saja, berusahamengembalikan kesadaran sepenuhnya untuk melakukan aktifitas selanjutnya. Hariini masih belum ada kegiatan, karena memang sesuai jadwal yang diberikan bahwakegiatan baru dimulai tangal 5 Oktober 2009. Terduduk di pinggir tempat tidursambil melihat sekeliling dan memastikan hari benar-benar sudah siang, kemudianberdiri dan melakukan beberapa senam kecil untuk badan akar tidak ikut kakuseperti jari tengah tangan kanan saya.

 

B.     Mengisi waktu dan menentukan kegiatan apa yangakan dilakukan:

Setelah melakukan"senam kecil", saya melanjutkan menyalakan "notebook" dengan mengelompokkanbeberapa data seperti gambar, music dan beberapa file lainnya. Menginstalsoftware "ard disc external" yang saya bawa dari Indonesia, tetapi sayangnyasaya tidak mampu mengsinkronisasikan antara Hard Disc External dengan laptopsaya. Karena tidak bias, saya mencari kegiatan lainnya sambil berfikir untukkegiatan apa yang akan saya lakukan selanjutnya guna menghabiskan waktu satuhari ini.

Ada beberapakegiatan yang saya rencanakan, diantaranya adalah mencari SIM CARD LocalProvider yang bisa saya gunakan terhadap beberapa telpon genggam yang saya bawadari Indonesia. Sarana kedua adalah mencari peralatan elektronik untukdisambungkan ke sumber linstrik, karena yang tersedia di kamar saya hanya satu"colokan" yang bentuknya "bulat". Semua tempat "colokan" yang ada bentuknya"pipih", dan saya butuh yang bentuknya "bulat". Sasaran ketiga adalah mencari"gantungan baju", ember, dan keperluan cuci lainnya.

Kemudian sayamandi, setelah mandi saya mempersiapkan diri dan kelengkapan lainnya sepertidokumen, dan sebagainya guna berangkat menuju tempat yang saya tuju sesuaidengan rencana yang telah saya tetapkan. Berdasarkan informasi dari salah satukenalan kawan saya semalam yang bernama Yuki, ia adalah pelajar yang berasaldari Jepang. Yuki menginformasikan dimana saya akan mendapat perlengkapanelektronik yang saya butuhkan, ia pun menyebutkan sebuah daerah yang dikiraternama dan terkenal di Jepang. Tempat yang Yuki sebutkan sulit sayamengingatnya, tetapi satu hal yang saya ingat adalah saya menggunakan saranatransportasi Kereta Listrik ke sebuah stasiun besar kurang lebih 20 menit waktuyang tempuh. Setelah itu saya melanjutkannya lagi ke tempat lain yang kira-kiralama waktu yang dibutuhkan adalah 15 menit, berdasarkan informasi itulah sayamemilih sarana transportasi Kereta Listrik.  

 

C.     01.17-pm waktu Tokyo, berangkat kegiatan.

Dengan berjalankaki saya pergi menuju stasiun Kereta yang terdekat, tetapi sebelumnya sayasinggah sesaat di sebuah toko swalayan yang letaknya terdekat dari asrama sayauntuk membeli sebungkus rokok Marlboro Light Menthol karena rokok yang sayabawa dari Indonesia sudah habis. Sambil melihat dan mempelajari rel kereta yangmelintas di atas saya, saya mencari tahu dimana stasiun kereta itu berada.Pandangan saya terhenti pada satu tempat yang saya yakini dari kejauhan bahwaitu adalah sebuah stasiun kereta, saya pun menuju tempat yang saya yakinitersebut.

Memakai bajuhangat yang diberikan oleh seorang teman sewaktu di Indonesia, dengan motifgaris-garis putih baju hangat berwarna hitam. Dalaman yang saya pakai adalahbaju berwarna hijau garis-garis abu-abu yang dibeli oleh istri saya waktu diIndonesia. Celana jeans warna biru dan sepatu putih merek "Reebook" yang dibeliistri saya pula, saya pun melenggangkan kaki ini melangkah dengan santainya.Tidak lama waktu berjalan, saya pun tiba di tempat yang saya yakini sebagaisebuah stasiun kereta, dan ternyata memang betul perkiraan saya. Tempat yangsaya maksud benar sebuah stasiun kereta api, saya tidak tahu persis apa namanyadan yang pastinya saya menaiki escalator atau tangga berjalan untuk menuju ketempat rel kereta.

 

D.     Salah tujuan (kondisi pertama):

Tiba di tempatpintu masuk menuju kereta, seblum naik dan membeli tiket, sebelumnya sayapastikan dulu sasaran tempat mana yang akan saya capai sesuai dengan rencanayang telah saya persiapkan sebelumnya. Tujuan saya yang pertama adalah mencariperlengkapan elektronik yang saya butuhkan, dari sekian nama stasiun keretayang ada, tidak satu pun yang mengindikasikan nama yang mengandung makna pusatpenjualan perlengkapan elektronik. Saya pun menanyakan petugas bagian penjualantiket yang ada di stasiun tersebut, petugas yang ada sama sekali tidak biasberbahasa Inggris. Saya pun kemudian disambungkan dengan seorang operator yangbias berbahasa Inggris, tentunya dengan menggunakan sarana telepon. 

Telepon punkemudian diberikan kepada saya dan saya menanyakan tempat yang dimaksud,operator menjawab tempat yang saya maksud di area Odaiba tidak ada. Jika punada, tempatnya di luar daerah atau kawasan Odaiba, dan tempat itu cukup jauhuntuk ditempuh. Saya pun mengerti, dan mengembalikan kepada petugas yang adadan meminta penjelasan dari mereka. Penjelasan mereka bahwa saya harus pergi kestasiun besar dan pindah kereta untuk menuju tempat yang saya akan tuju.Melihat hal yang demikian, saya memutuskan untuk merubah rencana pergi danmencari alternative lainnya, yaitu mencari SIM CARD guna mengaktifkan telepongenggam yang saya bawa dengan provider local untuk telepon genggam yang sayabawa hingga bisa digunakan.

 Saya melihat daftar list stasiun yang menurutperkiraan saya adalah pusat kartu telepon selular di sekitar tempat terdekattanpa harus keluar dari kawasan Odaiba ini, ada sebuah stasiun yang bernama"Telecom Center". Berdasarkan namanya, saya mengira bahwa di tempat tersebutsaya dapat menemukan sebuah SIM CARD local guna nantinya saya gunakan padatelepon selular yang saya bawa. Saya pun membeli tiket menuju stasiun tersebut,tiket pun dibeli dan saya menuju jalur tempat dimana semestinya saya menunggukereta yang menuju ke tempat yang saya tuju.

Tidak lama keretapun tiba, saya naik dan membaca intruksi di dalam kereta tentang stasiun manayang akan saya tuju. Stasiun yang saya naiki barusan berkode U-08, sedangkanyang saya tuju stasiun Telecom Center berkode U-09. Harga tiket yang saya bayarsebesar ¥180,- itu untuk satu kali perjalanan. Tidak lama saya pun tiba, danmenuju tempat yang sesuai insting dan naluri saya dengan ditambah beberapapetunjuk arah yang ada semata. Tiba di elevator atau lift, di depannya adapetunjuk gedung dan lantai tujuan yang akan dikehendaki. Kembali saya hanya mengandalkaninsting dan naluri bahwa ada sebuah nama yang terletak di lantai 12 dan 13 yangmenurut saya adalahs sebuah kantor dari salah satu provider local.

Mulai dari sayaturun hingga naik ke lantai yang saya tuju tersebut, sangat sedikit sayamenjumpai orang yang lalu lalang. Saya pun tidak mengerti, kemana perginyasemua orang yang bekerja hari ini. Saya pun kembali berpikir sejenak, hari apasekarang ini? Ketika saya tersadar bahwa hari ini adalah hari Sabtu, dimanahari ini adalah hari libur dan semua orang mayoritas menikmati waktu berliburbersama keluarga dan kepentingan lainnya di luar kegiatan bekerja. Selain orangyang saya jumpai sangat sedikit, bukti lainnya adalah adanya beberapa bangunanyang pintunya terkunci. Melihat kondisi seperti ini saya pun memutuskan untukkembali ke stasiun awal dimana saya naik pertama kalinya, tentunya denganmembeli tiket untuk kedua kalinya. Berdasarkan pengalaman saya tersebut, sayapun memutuskan diri untuk berani menuju tempat pusat penjualan peralatan elektronikyang berada di luar kawasan Odaiba.

 

E.      Tujuan kedua yang mengesankan:

Dengan harga tiketsebesar ¥370 saya pergi, dan lamanya perjalanan saya tempuh selama 20 menit.Hal tersebut sama dengan informasi yang diberikan oleh petugas kereta dan Yukikawan saya di asrama. Tiba di sebuah stasiun yang saya tuju, stasiun tersebutlebih besar dari stasiun pertama saya naik kereta di kawasan Odaiba. Stasiunitu bernama Stasiun Shimbashi, sebuah stasiun besar. Hal ini dibuktikan denganbanyaknya gedung-gedung bertingkat dan menjulang tinggi dan orang-orang punbanyak yang hilir mudik. Kondisi kota tersebut sama halnya dengan kota Jakartadi Indonesia, yang membedakan mereka ialah bahwa kota tersebut kesadaranpenduduknya sangat tinggi dan tingkat kedisiplinan yang tinggi pula.

Bukti kesadarandan disiplin penduduknya sangat tinggi adalah, bahwa lalu lintas tidak ada yangmacet seperti di Indonesia. Para supir taksi berpakir rapi menunggu penumpang sesuaidengan antrian mereka, diambah para perokok pun tidak ada yang merokok sambilberjalan. Mereka merokok di tempat yang telah disediakan dan merokok punberdiri dengan abu rokok dibuang pada tempat yang disediakan. Ada sebuahkalimat yang tertulis di tempat rokok yang telah disediakan tersebut, sayamengertinya karena ada yang bertuliskan dengan bahasa Inggris. "Merokoklahsebagaimana seorang yang bijak merokok, itulah ciri seseorang yang pandai danbijak". Kalimat yang singkat, ringan dan memiliki makna yang mendalam bagiorang yang mengerti.

Dan hal tersebuttercermin dari masyarakat penduduk yang saya lihat di sekitar saya, saya yangterbiasa merokok dengan tidak bijaksana di Negara Indonesia pun terbawa didalamnya. Saya pun tersadar, saya harus menjaga nama baik bangsa Indonesia.Bahwa saya pun seakan ingin menunjukkan kepada mereka (walaupun mereka tidaktahu pasti tentang saya berasal dari Negara mana) bahwa di Indonesia punmemiliki aturan yang sama walaupun pada prakteknya sama sekali tidak. Melihattulisan itu saya pun berhenti untuk mengisap rokok sebatang sambil istirahatdan mengamati keadaan sekeliling saya.

Selesai mengisaprokok saya melanjutkan perjalan sesuai dengan tujuan saya semula, tidak lamaberjalan saya melihat sebuah pos polisi "Koban" yang siap melayani masyarakat.Cerita tentang Koban sudah saya dengar sebelumnya, bahkan ada beberapa rekansaya, senior dan junior yang melakukan studi banding ke Jepang untukmempelajari kinerja mereka. Program  itupun sampai saat tulisan ini dibuat masih dilaksanakan, yang merasa saya lebihberuntung adalah bahwa saya merasakan manfaat Koban itu secara langsung tanpaadanya pemandu dan sesuatu yang dibuat-buat dengan kegiatan formalitas darikepolisian Jepang itu sendiri. Salute and respect for Koban Japanesse Police...!

Saya pun berhentidan menanyakan kepada salah satu anggota Koban yang ada di pos polisi tersebut,kendala yang saya hadapi sama dengan yang lain yaitu masalah bahasa. Tetapiyang sangat saya hargai dari mereka adalah, walau ada kendala dalam bahasamereka tetap mengusahakan secara maksimal. Mereka menelpon seorang operatoryang mampu berbahsa Inggris dan memberikan kepada saya tentang maksud dantujuan serta keperluan saya. Saya pun menerima telepon dari operator tersebut,dan saya menyampaikan apa maksud dan tujuan saya serta keperluan apa yang sayabutuhkan dan dimana mencarinya. Setelah semua maksud saya utarakan kepadaoperator yang mampu berbahasa Inggris, maka saya memberikan kembali teleponkepada petugas sebelumnya. Mereka pun bercakap-cakap, dan petugas polisi yangmenerima saya tadi seakan mengerti apa maksud dan tujuan saya.

Setelah polisitersebut mengerti, ia pun memanggil saya dan menjelaskan kepada saya. Karenapolis tersebut merasa saya mungkin kesulitan untuk mengerti penjelasannya, makaia meminta ijin kepada pimpinan di pos polisi tersebut. Singkat kata, pimpinanpos polisi memberikan polisi tersebut ijin dan polisi itu pun mengantarkan sayake sebuh toko yang saya inginkan. Maksud dan tujuan saya adalah bahwa sayamencari tempat yang bias mengganti SIM CARD Indonesia ke SIM CARD local Jepang.

Satu hal yangkurang mereka lakukan sehubungan dengan kejadian itu berlangsung, yaitu daripolis yang ada di pos polisi Koban tersebut, tidak satu pun yang menanyakanidentitas diri saya seperti passport dan visa. Untung saya seorang anggotakepolisian Indonesia yang melaksanakan tugas belajar di Jepang, bagaimana jikasaya adalah seorang pelaku kejahatan yang tidak memiliki dokumen kelengkapandiri sekalipun, tentu saja saya akan bebas berkeliaran tanpa harus disertaidokumen kelengkapan diri. Kelemahan lainnya adalah, petugas koban tersebuthanya seorang diri tanpa disertai atau didampingi oleh rekannya yang lain.Bagaimana dengan keamanan personal dari individu petugas koban tersebut, apakahkarena mereka merasa tempat itu sudah merupakan tempat yang aman.? Satu halyang saya ketahui, tidak ada satu pun tempat yang aman di muka bumi ini, jadi "body system" hendaknya tetapt harusdilaksanakan.

Tiba di tempattoko yang diantar petugas koban tersebut, saya pun akhirnya ditinggal sendiridan petugas koban pun kembali menuju posnya. Saya pun memasuki toko tersebutdan menanyakan maksud dan keperluan saya, rupanya toko tersebut adalah salahsatu cabang perusahaan provider SIM CARD yang ada di Jepang. Semua penjelasanmereka berikan, seperti hal yang sama masalah bahasa menjadi kendala utama.Tetapi mereka mensiasati dengan menyiapkan seorang operator yang mampuberbahasa Inggris untuk member penjelasan kepada para tamu yang tidak bisaberbahasa Jepang, bagaimana bagi tamu yang tidak bias berbahasa Inggrissekalipun?

Dokumenkelengkapan diri yang saya bawa hanya passport dan visa, sedangkan kelengkapandan ijin tinggal baru dalam proses. Aturan yang berlaku di Jepang adalah, jikakita ingin menggunakan sarana telekomunikasi kita harus memiliki ijin tinggalterlebih dulu. Hal ini mutlak bagi mereka, sehingga apapun sarana komunikasiyang kita inginkan tidak akan bias terealisasi, bahkan sarana akses internetseperti "modem USB" pun tidak bisasaya usahakan. Dengan kondisi yang demikian pun saya memutuskan untukmengakhiri mencari sarana komunikasi baik itu SIM CARD maupun modem USB untukinternet.

 

F.      Dapat ilham atau ide yang bagus.

Tujuan utama punkandas, saya akhirnya menyiapkan tujuan yang kedua. Tetapi saya pun berpikir,bahwa tujuan kedua tidak begitu penting. Tiba-tiba terpikir oleh saya untukmencari Kedutaan Besar Indonesia, maksudnya adalah bahwa saya hendak melaporkankeberadaan saya di Jepang dan dalam tujuan yang bagaimana. Maka saya memutuskanuntuk kembali ke pos polisi koban semula, dan bertanya kepada petugas kobanyang ada. Kebetulan orangnya berbeda dari yang saya tanyakan sebelumnya, dalamhal ini saya menunjukkan dokumen kelengkapan diri saya kepada petugas kobantersebut.

Saya pun bertanyadimana saya dapat menemui Kedutaan Besar Indonesia, kembali petugas kobantersebut mengusahakan cara bagaimana saya dapat menuju kesana. Beberapa bukudan peta yang dibuka oleh petugas tersebut, beberapa menit pun berlalu hinggaakhirnya ia menemukan jawabannya. Ia pun menjelaskan saya secara singkat,karena kendala bahasa lah yang menyebabkan. Tetapi saya mampu menangkap maksuddari penjelasan petugas koban tersebut, bahwa saya harus pergi ke StasiunGotanda. Dengan penjelasan itu pun saya kembali ke stasiun kereta dan membelitiket menuju Stasiun Kereta Gotanda, dengan harga ¥160 maka saya menuju jalursatu dan menunggu kereta menuju stasiun Gotanda. Tentu saja untuk mencapai haltersebut saya tidak terlepas bertanya dengan bagian informasi yang ada di tiapstasiun yang ada.

 

G.    Kekecewaan diri sendiri:

Perjalanan sayatempuh dengan waktu 15 menit, melewati 4-5 stasiun yang saya tidak ingatpastinya. Tiba akhirnya di Stasiun Gotanda dan saya pun keluar dari stasiunitu, seperti hal sebelumnya berdasarkan pengalaman, saya pun mencari  pos polisi koban. Dan anggota polis punmemperlakukan saya hal yang sama, tetapi mereka tidak mengantarkan saya karenamereka bilang jarang yang ditempuh cukup jauh. Saya pun mengerti dan memaklumikenapa mereka tidak bersedia mengantarkan saya, setidaknya apa yang polis kobanlakukan merupakan suatu aturan dasar dalam memperlakukan seseorang yangmembutuhkan informasi tidak penting bagaimanapun bentuk dan berasal dari manaorang tersebut. Dan kelemahan dari mereka tetap hal yang sama, yaitu masalahbahasa dan tidak menanyakan kelengkapan identitas dokumen pribadi dari tiaporang yang bertanya.

Saya pun mengikutiintruksi dan petunjuk yang diberikan dari polisi koban tersebut, saya berjalanmelewati dua lampu pengatur lalu lintas. Sambil berjalan, saya menikmatipemandangan dan situasi serta kondisi yang ada. Tidak lama mata saya tertujuoleh sebuah papan nama dari sebuah gedung, papan nama tersebut bertuliskanbahwa gedung ini adalah Kedutaan Besar Indonesia. Saya pun mengamati sekelilinggedung tersebut, tanpa adanya bendera Indonesia yang berkibar di sebuah tiangbendera seperti layaknya beberapa gedung Kedubes Negara lain yang ada diIndonesia.

Sepintas sayaberpikir, apakah tidak pernah ada upacara kenegaraan atau setidaknyapenghormatan penaikan bendera Indonesia yang dilakukan oleh orang-orangIndonesia yang bekerja di Kedubes Indonesia. Atau mungkin Dubes Indonesiaterlalu sibuk bekerja sehingga lupa akan bendera bangsanya sendiri. Ataumungkin semua pegawai di Kedubes Indonesia ini adalah orang-orang asli Jepang,jika demikian wajar mereka tidak peduli dengan bendera bangsa Indonesia karenabukan bangsa mereka sendiri. Atau mungkin ini merupakan kebijakan dan aturandari pemerintah Jepang bahwa tidak ada bendera yang boleh berkibar selainbendera Jepang. Tetapi kenapa di asrama tempat saya tinggal, mereka mengibarkanbendera masing-masing dari tiap Negara peserta dalam program beasiswa ini.Entahlah.......?

Beberapa menitsaya mengamati pintu masuk Kedubes Indonesia, tanpa harus tahu mau berbuat apasaya...? Karena memang saya bingung harus melakukan apa untuk bisa masukkedalamnya, beruntung tidak lama ada seorang ibu-ibu yang saya menilai iaadalah orang Indonesia menekan sebuah tombol yang saya sendiri tidak tahu letakdimana tombol itu berada. Tidak berapa lama kemudian terbukalah pintu masukyang diperuntukan untuk pengunjung yang tidak membawa kendaraan. Begitu ibutersebut masuk, saya pun ikut dibelakangnya. Ibu tersebut langsung meluncurmasuk kedalam Kedubes tanpa menghiraukan saya yang ada di belakangnya. Saya puntidak ingin menganggu perjalanan ibu tersebut, saya memutuskan untuk menanyakankepada petugas keamanan yang sedang berdinas di pos penjagaan yang ada.

Rupanya petugaskeamanannya pun seorang asli Jepang yang kemampuan berbahasa Inggris pun tidaklancer, apalagi bahasa Indonesia. Sungguh sangat ironis, seseorang yang sudahlayaknya pensiun, berusia ±60-an keatas, seakan ia pun bekerja hanya untukmenghabiskan masa tuanya semata, masih dipekerjakan untuk bertugas mengamankanKedubes Indonesia. Ironisnya, ia bertugas hanya seorang diri tanpa didampingirekan petugas lainnya. Ia pun menyampaikan pada saya bahwa ia sudah dua tahunlebih bekerja menjadi petugas keamanan di Kedubes Indonesia dengan "systemkerja sift" yang digilir secara bergantian satu orang.

Sungguh bertolakbelakang dengan kondisi yang ada di Indonesia, dimana petugas keamanan diIndonesia dilakukan oleh banyak orang yang masih berusia muda atau produktifsaya contoh dan bandingkan dengan Kedubes Jepang yang ada, bahkan ada kendaraanpolisi berada di depannya dan beberapa orang polisi Indonesia lainnya menjagapintu masuk utama masuk ke Kedubes Jepang yang ada di seputaran kawasan patungselamat datang. Sungguh sangat bertolak belakang, apakah gaji pegawai di Jepanglebih mahal ketimbang di Indonesia? Atau memang Jepang lebih aman dariIndonesia? Atau pemerintah Indonesia tidak mampu membayar gaji petugas keamanandi Jepang? Padahal, banyak pengangguran yang ada di Indonesia. Saya yakin,masih banyak sarjana yang mampu berbahasa Inggris atau Jepang yang maudipekerjakan menjadi petugas keamanan di Jepang dan mereka masih usia belia danmereka mau dipekerjakan di Jepang. Sungguh sangat disayangkan, itulah IndonesiaRaya...!

Petugas keamananyang asli orang Jepang itupun bertanya kepada saya, apa maksud kedatangan sayadan apakah sudah memiliki janji sebelumnya? Saya utarakan kepada beliau bahwamaksud saya datang adalah ingin lapor diri tentang kedatangan saya dan sayatidak mempunyai janji apapun sebelumnya dengan Kedutaan Besar Indonesia yangdicinai ini. Ia pun menjelaskan bahwa Kedubes sudah tutup, nanti baru akanmelayani kembali hari senin dari jam 10.00-16.30 waktu Tokyo. Hari iniberhubung hari Sabtu sampai dengan hari minggu Kedubes tutup, jadi sayadisarankan untuk kembali lagi hari Senin. Saya pun pasrah dengan kondisitersebut, setidaknya saya sudah mengetahui dimana letak Kedubes Indonesia yangsaya cintai ini. Tiba-tiba pitu gerbang utama pun terbuka, sebuah kendaraan masukkedalam disertai ada seorang wanita dengan menggunakan "jilbab" ikut masukkedalamnya.

Saya punmemberanikan diri dan menyapa dia, "apakah mbak orang Indonesia..?" Denganpandangan seakan aneh melihat saya, ia pun menjawab walau agak ragu. "Benar,saya orang Indonesia". Saya pun berucap, "Syukur Alhamdulillah, akhirnya sayabisa bertemu dengan orang Indonesia". Saya jelaskan maksud kedatangan saya danketidaktahuan kondisi di Kedubes Indonesia yang sudah tutup ini, saya menangkapekspresi dari wanita tersebut tentang ekspresi keragu-raguan. Saya mengutarakankepadanya, bahwa apakah ia ada mengenal seorang staf yang dapat membantu sayadalam proses lapor diri saya bisa terbantu.

Dibenak saya yangada adalah, suasana keramahan, keakraban dan persaudaraan. Itu pun yang sayarasakan waktu saya ke Italy setahun yang lalu. Saya bukan kali pertamaberangkat ke luar negeri, dan pandangan orang asing tentang Indonesia adalahkeramahtamahan warga pribumi. Ternyata penilaian saya salah, dengan ekspresiwajah yang seakan aneh melihat saya, ia pun menjawab. "Tunggu disini ya mas,saya akan pangilkan ibu saya sebentar...!". Sungguh jawaban yang saya tidak kira,saya berpikir mungkin saya dapat dipersilahkan masuk kerumahnya untukdiperlakukan sebagai layaknya "saudara jauh" yang baru bertemu. Tetapi hal itutidak, saya hanya disuruh menunggu di luar dengan ditemani petugas keamananorang asli Jepang yang tua. Saya pun mengikutinya, berharap orang yang akanturun nantinya mampu member bantuan bagi saya.

Sambil menunggukedatangan orang yang diharapkan, kembali saya menalnjutkan percakapan denganpetugas keamanan tadi. Saya Tanya kepada petugas, apakah sering berkomunikasidan berinteraksi dengan orang-orang Indonesia yang bekerja di Kedubes Indonesiaini. Ia pun menjawab, sangat jarang sekali. Jika demikian, pantas ia tidakmengenal seorang Indonesia pun yang ada di Kedubes ini. Bukti lainnya, jika iasering berinteraksi, setidaknya ia sedikit banyak mampu berkomunikasi bahasaIndonesia. Pada kenyataannya tidak, jangankan bahasa Indonesia, bahasa Inggrispun "carut marut". Bagaimana saya akan berinteraksi dan berkomunikasi denganpejabat Kedutaan yang ada, kesan awal yang saya terima pun adalah kesan "individualistic" yang sangat kental.

Saat sedang asyikmenikmati kedongkolan hati, tibalahorang yang ditunggu hadir seorang wanita paruh baya dengan berjilbab danmengenakan baju dan celana berwarna putih. Saya pun menjelaskan maksud dantujuan saya, sambil mengunyahmenghabiskan sisa makanannya yang sedang dikunyahnya, dan ibu itu punmenjelaskan kepada saya seadanya. Melihat hal yang tidak mengenakkan tersebut,saya pun berusaha meminta pertolongan kepada ibu itu. Bahwa jadwal kuliah sayahingga 07.30 s/d 17.00, jika hari Senin saya disuruh kembali lagi dengan jarakyang demikian jauh, maka saya tidak sanggup.

Kembali ibu itumenyarankan nanti jika ada waktu saja baru kembali lagi, solusi lainnya sayahendaknya mendaftarkan melalui alamat web yang tersedia. Ibu itu hanyamenjelaskan secara lisan tanpa memberikan kepada saya secara tertulis alamatweb mana yang harus saya tuju. Singkat kata uraian dan penjelasan ibu itu sayanilai cukup, karena percuma dan buang waktu saja tanpa ada rasa persaudaraansedikit pun terlihat dari ibu dan anaknya. Saya hanya menggeleng dan sangat sedihdengan keramahan yang ditunjukkan,saya bilang dengan ibu itu bahwa saya adalah anggotsa polisi Indonesia yangsedang melaksanakan tugas belajar di Jepang. Apa yang ibu itu lakukan, sangatbertolak belakang dengan perlakuan petugas koban. Selama ± 15 menit saya diKedubes Indonesia tanpa hasil, saya tinggalkan Kedubes itu pukul 17.27 waktusetempat dengan rasa pedih yang mendalam.

 

H.     Pulang ke asrama:

Kecewa, sedih dan carut marut. Sudah tentu saya rasakan,tetapi apa yang harus diperbuat. Setidaknya saya hanya berpikir, suatu saatnanti pasti ibu itu akan perlu diri saya. Dengan apa yang saya alami, makamenyurutkan keinginan saya untuk melaporkan keberadaan diri saya ke Kedubes Indonesia.Toh, ibu itu menyarankan saya melapor jika ada waktu atau melalui saranainternet. Saya jadi berpikir, apa kerja Dubes Indonesia di Jepang.? Toh, merekahadir di Jepang adalah untuk melayani warga Negara Indonesia yang datang keJepang. Jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan menimpa saya, saya yakinmereka tidak mengerti. Biarlah ini menjadi pengalaman saya pribadi, dan sayatidak ingin saudara-saudara saya mengalaminya. Berharap, semoga perubahan bisaterjadi.

Seiring melaluirute sewaktu saya datang sebelumnya, dan saya memikirkan hal di atas. Sayaberjalan menuju stasiun kereta Gotanda untuk kembali ke Odaiba. Saya mengukurberapa lama waktu yang ditempuh untuk kembali pulang, tentu saja dengan prosesbertanya kepada pihak-pihak yang dinilai mampu memberikan informasi yang sangatbutuhkan. Setidaknya butuh waktu satu jam untuk tiba pulang ke asrama. Danayang harus dipersiapkan sebesar ¥530, jika dibandingkan dengan uang rupiahkurang lebih sebesar Rp. 530.000,-. Cukup besar jumlah tersebut ketimbangsarana transportasi di Indonesia, memang biaya hidup di Jepang sangat besar,khususnya kota Tokyo.

Setiba di stasiunkereta yang terdekat dengan asrama, saya turun dan keluar. Singgah sesaat ketoko swalayan untuk membeli perlengkapan dan kebutuhan, naik dengan menempelkankartu identitas diri kemudian naik lift menuju lantai tujuh dimana sayatinggal. Setiba di kamar saya memasak bubur, tentu saja membeli bubur kemasanyang banyak dijual. Selesainya, saya buat susu dan menyantapnya seorang diri.Nikmat memang, karena merupakan penyajian yang dilakukan seorang diri dan inimerupakan kali pertama setelah saya tiba di Jepang.

 

Dengan menggunakan celana pendek,setelah mandi malam dan kondisi mulai santai. Demi mencairkan kondisi badan,sambil menikmati jari tengah tangan kanan yang masih linu dan kaku sayatuliskan pengalaman ini. Berharap esok lebih baik dari hari ini, Yaa Allah YaaTuhan ku. Terima kasih atas nikmat yang Engkau berikan kepada ku hari ini,Alhamdulillah pulsa telpon genggamku sudah diisikan oleh istriku di Indonesia.Terima kasih juga sayangku tercinta, pesanku jangan terlalu sering memarahiacha putriku. Cukup aku semata yang memarahinya, biar di mata acha mamanyaadalah sosok manusia yang penuh kasih sayang. Peluk ciumku buat kalian berdua,istri dan putriku.

 

Odaiba, 3 Oktober 2009.

12.04-am waktu Tokyo

 

Last update : 03-09-2010 01:19

   
Quote this article in website
Favoured
Print
Send to friend
Related articles
Save this to del.icio.us

Users' Comments  
 

Average user rating

   (0 vote)

 
Comment language: English (0), Bahasa Indonesia (0)

Add your comment
Only registered users can comment an article. Please login or register.

No comment posted



mXcomment 1.0.6 © 2007-2012 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >



Article ED Berita ED